Monday, 27 November 2006

Alangkah Indahnya Kematian

"Setiap yang bernyawa pasti mati"

Ketika sang hidup mengakhiri ceritanya

dongeng pengantar tidur manusia

anak-anak zaman penghuni dunia fana

Ketika seorang bocah malang

terjebak dalam perang

diantara darah tergenang

Dan tumpukan tulang belulang

Ketika kita duduk gelisah di kursi listrik

Lutut kita gemetar di hadapan regu penembak

Kan pikiran kita terpasung dalam ketakutan

Ketika kita boleh meninggalkan

semua pekerjaan

Tanpa harus kita selesaikan

Saat tirai menutupi layar lebar

Tanda berakhirnya film tentang kehidupan

Lalu, kita pun membalikkan badan dan melambaikan tangan

Mengukir senyuman di hati para kekasih yang ditinggalkan

Kemudian menghilang di balik gerbang

Yang dihiasi spanduk penyambutan

Dan menghambur dalam pelukan Sang Pemilik Keabadian

Begitu pasrah, dengan penuh kerinduan

Sungguh, alangkah indahnya kematian.

MCMXCVI

p e t e r u s

Hidup adalah rutinitas realita

Ketidakadilan merajalela

Kesewenang-wenangan makin menggila

Menjadi rutinitas para penindas

Kami bosan dengan segala

Penjajahan antar sesama

Stabilitas menjadi konstanta

Yang menjelma menjadi tirani

Dalam genggaman si tangan besi

Kami mulai mengenal solidaritas

Sadar bahwa kita ditindas

Bahwa hukum hanyalah tulisan diatas kertas

Dan perjuangan pun menjadi rutinitas

Kita akan terus berjuang

Kita akan turun ke jalan

Karena anggota dewan sibuk bersidang

Sementara darah terus menggenang

Kita akan terus menentang

Segala tindak sewenang-wenang

Kita akan menuntut hak kita atas hidup demi anak cucu

Kita akan terus berjuang kawan

Dan terus, dan terus, dan terus, dan terus...

Karena hidup hanyalah perputaran rutinitas

Manado, Januari 1995

Demokrasi Yang Diobok-obok

Joshua kecil bernyanyi di musik kampus, di Trisakti

"Diobok-obok, demokrasinya diobok-obok

Pada akhirnya rakyat kecil pada mabok

Diputer-puter logika hukum diputer-puter

Rakyat jelata, merekalah yang sengsara"

Diobok-obok, ya, kedaulatan kita diobok-obok

Diputer-puter, ya, konstitusi kita diputer-puter

Diacak-acak, ya, pikiran sehat diacak-acak

Dikucek-kucek, ya, mata hati kita dikucek-kucek

Diguncang-guncang, ya, ketabahan kita terguncang

Digedor-gedor, ya, pintu kesabaran kita terdobrak

Apalagi yang tersisa

Setelah hidup kehilangan makna

Setelah perjalanan tak lagi punya arah

Setelah perjuangan manusia dianggap sia-sia

Dan cita-cita bangsa jadi omong kosong belaka

Di sini, di dalam kepengapan kota

Di tengah hiruk-pikuk lautan manusia

Yang berlari berhamburan, kesana-kemari

Aku terpana dan bertanya-tanya

Pada mau kemana mereka sebenarnya?

Mei 1998

Selamat Pagi Rutinitas!

Pagi tadi aku terbangun

Bersama mentari yang masih berotasi

Dan bumi dengan delapan planet lainnya

Yang terus ber-evolusi

Dan bulan yang beredar pada orbitnya

Dan jutaan bintang lainnya

Dalam galaksi bimasakti

Lalu aku termenung

Menatap langit-langit

Menarik nafas dalam

Dan mendesah perlahan

Selamat pagi rutinitas…

1993-1995

a g i t a s i

Seorang orator berdiri di depan podium

dan mulai berkata-kata hingga banyak bicara:

Marilah kita onani

Kerna bercumbu dengan puteri liberti

Tidaklah mungkin untuk saat ini

Dan independensi cuma ilusi

Marilah kita onani

Dan berteriaklah dalam hati

Kerna kita punya suara

Hanya cukup untuk mendesah

Marilah kita onani

Menikmati dunia kita sendiri

Dunia khayal penuh kreasi

Kerna dunia nyata bukan punya kita

Marilah kita onani

Memanjakan imajinasi

Kerna mengagungkan kebenaran sejati

Sama saja dengan masturbasi

Marilah kita onani

Mendaki tangga ekstasi

Menggapai puncak ejakulasi

Selama kita masih kehilangan mimpi

Dan institusi bejat, dan birokrasi keparat

membendung sungai aspirasi, dan kitapun onani…

MCMXCVI

III

Hari ini telah tercatat "yang ketiga"

Setelah sekian lama hitunganku terhenti di angka kedua

Setelah seperempat abad kutelusuri usia

Dengan foto yang sama di samping kiri burung garuda

Hari ini Pak Tua kembali ke rumahnya

Meninggalkan sejumlah tanya

Bagi dua ratus juta manusia

Setelah tiga dasawarsa, yang terasa seperti selamanya

Kuharap, tak ada lagi liputan khusus dan temu wicara

atau pidato kenegaraan yang membosankan

Tak ada slogan-slogan, gera'an-gera'an dan penataran-penataran

Tak ada lagi PSPB, pembodohan, dan pembredeilan

Tak ada dwi fungsi ABRI, tak ada kasus subversi

Tetapi buku sejarah belum selesai

Masih akan ada yang keempat, kelima dan seterusnya

Dan pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawabnya

Manado, 21 Mei 1998

Virtual Democracy

Dalam kisah star trek

Aku mengendarai starship enterprise

Yang mengarungi angkasa

Tapal batas akhir peradaban manusia

Meninggalkan bimasakti

Menuju galaksi andromeda

Bermain dalam ruang holodeck

Menikmati episode virtual democracy

Di anjungan indonesia

Dari jendela ruang komando

Aku menyaksikan ledakan supernova

Seperti menatap masa lalu

Yang begitu jauh

Sementara planet biru perlahan terhisap ke dalam blackhole…

Di layar telescreen

Muncul wajah seorang ibu dengan tahi lalat di dekat bibirnya yang menyerukan untuk melupakan revolusi

Dan menerima kenyataan

Karena ibu kalian

Sudah mendekati kekuasaan…

Tahuna, Oktober 1999